Beberapa Hal Menantang Dari “Part Time Job”

Mencari kesempatan part time job atau kerja paruh waktu saat studi di luar negeri bisa dilakukan dengan bermacam cara. Akrab dengan kakak kelas atau senior, misalnya, juga bermanfaat untuk menuai kesempatan ini, selain tetap aktif mencari sendiri dari internet atau iklan di koran.

Inilah pengalaman yang diperoleh Yovita Lily, mahasiswi tahun ketiga di Asia Pacific Studies-Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), Beppu, Jepang. Lily, panggilan akrab mahasiswi ini, mengaku mendapatkan kerja paruh waktu dari seorang kakak kelasnya.

Saat itu, Lily masih duduk di tahun kedua, sementara si kakak kelas tengah memasuki tahun keempat dan terpaksa mencari pengganti dirinya. Hal itu karena ia harus menghadapi job hunting sehingga harus sibuk dengan seminar dari perusahaan dan bermacam wawancara. Lily pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu.

“Saya mulai bekerja sejak Oktober tahun lalu. Sekitar dua minggu pertama, kakak kelas tersebut mengajari saya apa yang perlu saya lakukan selama part time di situ,” tutur Lily.

Lily mengaku belajar semuanya dari nol, mulai menyiapkan karpet, membeli es batu, mengisi air di vas bunga, sampai menyiapkan bahan makanan, seperti telur rebus untuk salad. Tugas utamanya, kata Lily, menyiapkan makanan pembuka (appetizer) dan menghias piring untuk makanan utamanya.

Menyiapkan makanan appetizer itu mencakup memotong makanan dan memberikan bumbu (seperti kecap jepang dan sebagainya. Sementara tugas menghias piring dilakukan seperti menaruh kol dan bahan-bahan lainnya, seperti jeruk limau, tomat, lemon, dan apa saja tergantung makanannya.

“Selain tugas utama itu, tugas lainnya harus saya kerjakan adalah mencuci piring, menyajikan makanan yang sudah dibuat kepada pelanggan, dan menerima pesanan,” kata Lily.

Lily mengaku, bekerja paruh waktu di sela kuliah memang bukan pekerjaan enteng. Berikut beberapa hal yang menurutnya menantang dari aktivitas part time job ini: 

Bahasa

Bekerja paruh waktu di Jepang sangat membutuhkan keahlian bahasa Jepang tingkat atas. Kebanyakan tamu yang datang adalah pelanggan tetap yang sudah mengenal, bahkan orang-orang yang bekerja part time di situ.

“Jadi, sewaktu pertama kali bekerja, banyak sekali yang melontarkan pertanyaan kepada saya, mengenai nama saya, mengenai Indonesia, atau hanya sekadar mengajak mengobrol biasa,” kisah Lily.

Konsentrasi

Meskipun hanya bekerja paruh waktu, soal keseriusan bekerja tetap nomor satu. Untuk itu, bekerja di sini tidak bisa main-main karena butuh konsentrasi, meski itu hanya urusan menghias piring sekalipun seperti pengalaman Lily.

“Karena banyak sekali menu makanan yang piringnya harus saya hias. Di sini saya ditantang mengingat semua menu dan piringnya, serta bahan makanan apa yang harus saya gunakan,” ucap Lily.

Budaya disiplin

Hidup di tengah kedisiplinan tinggi di lingkungan kerjanya, Lily pun harus berkomitmen tinggi untuk menyesuaikan diri. Ia mengakui, hal itu adalah wajib dia lakoni karena telah memasuki daerah dengan budaya Jepang yang 100 persen.

“Bukan hanya bahasa harus saya kuasai, melainkan juga kebiasaan sehari-hari mereka, misalnya ketepatan waktu, keramahan, dan lain-lain,” ujarnya. 

Sumber: kompas.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s