Tantangan dan Strategi Perpustakaan Dalam Penyediaan Layanan Bagi Generasi Digital

Pustakawan SMAN 7 Denpasar foto bersama Ketua FPPTI Bali

Pustakawan SMAN 7 Denpasar foto bersama Ketua FPPTI Bali

Pendahuluan
Salah satu faktor penting pendukung lembaga pendidikan yang sangat berperan dalam suatu proses akreditasi adalah perpustakaan. Perpustakaan merupakan salah satu unit dalam suatu lembaga pendidikan yang memiliki peran untuk mendukung kegiatan pembelajaran, penelitian, publikasi dengan menyediakan berbagai macam informasi yang sesuai dengan kebutuhan pemustakanya. Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi komunikasi, pemustaka saat ini telah berubah secara radikal. Mulai dari perilaku mereka dalam mencari informasi dengan memanfaatkan internet, cara mereka belajar sambil bermain games atau mendengarkan musik serta kesenangan mereka dalam berkolaborasi dan berbagi informasi melalui jejaring. Mereka ini disebut sebagai generasi digital atau digital natives.

Adanya perubahan-perubahan tersebut di atas menuntut perpustakaan untuk berbenah dan meredefinisikan perannya. Hal ini pula yang menjadikan tantangan perpustakaan dalam menyediakan layanan bagi para generasi digital. Oleh karena itu, Seminar Nasional dengan tema “Tantangan Perpustakaan Perguruan Tinggi Dalam Penyediaan Layanan Bagi Generasi Digital” yang dilaksanakan oleh Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) Bali merupakan kegiatan penting sebagai ajang komunikasi profesional guna membahas fenomena terkini dalam bidang perpustakaan dan informasi di Indonesia. Seminar Nasional yang dilaksanakan pada tanggal 20-21 Juni 2013 di Hotel Mercure Bali Harvestland Kuta ini diikuti oleh para pustakawan perguruan tinggi, pustakawan sekolah, staf pengajar perguruan tinggi, mahasiswa dan pemerhati pendidikan.

Tantangan dan Strategi Perpustakaan Dalam Penyediaan Layanan Bagi Generasi Digital
Perpustakaan dikatakan berhasil apabila perpustakaan mampu memenuhi kebutuhan pemustakanya. Pada era informasi dan teknologi saat ini, pemustaka potensial perpustakaan adalah mereka yang disebut sebagai generasi digital. Generasi digital merupakan istilah yang digunakan untuk menamakan generasi anak-anak yang lahir setelah tahun 1980an (ada yang mengatakan setelah tahun 1990an), yang saat ini hidup dalam dunia teknologi informasi dan selalu terhubung dengan berbagai kalangan secara online baik melalui teknologi kabel maupun teknologi nirkabel seperti ponsel pintar, tablet, PDA, dan laptop.

Generasi digital memiliki karakteristik antara lain sebagai berikut:
1. Ingin mendapatkan informasi dengan cepat via mesin pencari di internet seperti Google
2. Berharap teknologi dan konektivitas harus selalu ada dimana saja dan kapan saja
3. Menyukai kolaborasi dari satu orang ke orang lain secara berjejaring
4. Multitasking, dalam arti mereka dapat belajar sambil bermain games, browsing internet, ataupun mendengarkan musik
5. Menyukai sesuatu yang berbentuk gambar interaktif (grafis) dibanding dengan teks
6. Menyukai bekerja sebagai suatu games
7. Mengharapkan suatu penghargaan
8. Puas dengan sesuatu yang serba instan
9. Menyukai akses informasi secara acak

Melihat berbagai karakteristik generasi digital di atas, perpustakaan mau tidak mau harus berubah mulai dari layanan, program, dan desain penataan ruangan. Hal ini dimaksudkan agar kebutuhan para generasi digital dapat dipenuhi oleh perpustakaan. Jika tidak dilakukan maka lambat laun perpustakaan akan ditinggal oleh pemustakanya. Strategi yang dapat dilakukan oleh perpustakaan untuk menghadapi tantangan dari para generasi digital adalah:
1. Optimasi sistem automasi perpustakaan dan pengembangan perpustakaan digital
2. Mulai memperhatikan pengadaan sumber elektronik atau koleksi digital
3. Peningkatan pengetahuan, keterampilan hard skills dan soft skills pustakawan
4. Peningkatan fasilitas bagi generasi digital seperti, colokan listrik, wifi/hotspot, kecepatan data internet, perabotan yang informal dan santai, fasilitas audio video
5. Dalam mendesain penataan ruangan hendaknya memberikan ruang lebih bagi pemustaka agar dapat saling berinteraksi dan kolaborasi

Penutup
Tantangan perpustakaan di era teknologi informasi dan komunikasi sangatlah berat dikarenakan daya, usaha, dana untuk menyediakan layanan dan fasilitas yang dibutuhkan pemustaka sangat terbatas. Namun demikian, diharapkan strategi yang telah dibahas dapat memberikan solusi bagi tantangan yang dihadapi. Hal utama dalam pemberian layanan yang sesuai dengan kebutuhan para pemustaka, utamanya generasi digital, adalah kemauan dan motivasi tinggi dari para pustakawan untuk mengubah keadaan yang ada.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Advertisements

5 Universitas Dengan Jurusan Sastra Inggris Terbaik di Indonesia

download (1)Pengen kuliah di jurusan Sastra Inggris, tetapi masih bingung di universitas mana? Hasil pemeringkatan perguruan tinggi QS World University Rankings by Subject 2013 ini bisa jadi pertimbangan.

UI duduk di peringkat pertama. Namun demikian, meski masih terbaik di Indonesia, UI telah terdepak dari daftar 200 kampus terbaik di dunia untuk jurusan Sastra Inggris. Padahal tahun sebelumnya, UI masuk dalam jajaran ranking 101-150 terbaik dengan reputasi akademik dan sumber daya manusianya, masing-masing 44,3 dan 92,4 dari skala 100.

Lima kampus dengan jurusan Sastra Inggris terbaik di Indonesia adalah:
1. Universitas Indonesia
2. Universitas Sanata Dharma
3. Universitas Pendidikan Indonesia
4. Universitas Diponegoro
5. Universitas Gadjah Mada

Di Asia, lima perguruan tinggi dengan jurusan Sastra Inggris terbaik adalah National University of Singapore (NUS), University of Hong Kong, University of Tokyo, Chinese University of Hong Kong, dan City University of Hong Kong. Sementara itu, di urutan teratas masing-masing University of Oxford di Inggris, University of Cambridge di Inggris, Harvard University di Amerika Serikat, University of California, Berkeley (UCB) di AS, dan Yale University di AS.

Dalam melakukan pemeringkatan, QS World Ranking menggunakan indikator reputasi akademik, kualitas sumber daya manusia, jumlah tingginya kutipan yang dipakai peneliti, indeks H yang digunakan untuk mengukur produktivitas, dampak dari sebuah karya ilmiah para peneliti dan sarjananya, serta kekuatan spesialisasi pada disiplin ilmunya.

Sumber: kompas.com

Posted from WordPress for BlackBerry.

Apa Sebenarnya Pusat Sumber Belajar (PSB) di Sekolah?

16library.jpegPusat sumber belajar (learning resoureces center) merupakan suatu perpaduan dari fungsi perpustakaan dan pusat multimedia pembelajaran. Pusat sumber belajar (PSB) pada dasarnya merupakan penerapan teknologi pembelajaran yang terfokus pada tujuan untuk memecahkan masalah-masalah belajar melalui intensifikasi dan diversifikasi pemanfaatan sumber-sumber belajar (learning resources). Dengan cara demikian pembelajaran diharapkan terlaksana secara efektif dan efisien dan pada gilirannya dapat mempertinggi mutu pembelajaran.

PSB bernilai ganda, dilihat dari segi pendidik dan pembelajar. Bagi pendidik, dengan pemanfaatan PSB secara tepat dapat meringankan tugasnya dalam menyajikan bahan pembelajaran yang dalam pembelajaran konvensional merupakan beban yang cukup memberatkan. Kecuali itu, pendidik memiliki peluang untuk lebih kreatif dalam mengembangkan kemampuan profesionalnya. Bagi pembelajar, dengan penggunaan PSB dapat menyalurkan mereka dalam proses belajar yang menggairahkan sebab terbuka peluang untuk belajar yang sesuai dengan kekhasan gaya belajar (learning style) masing-masing.

PSB dalam dimensinya yang lebih komprehensif dapat meluangkan terwujudnya pembelajaran yang adaptif dan akomodatif terhadap eksplorasi ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Jelasnya, eksplosi IPTEK dewasa ini, utamanya dimasa-masa mendatang, dari yang hanya mentransmisi pengetahuan kepada pembelajar menjadi memotivasi pembelajar untuk mampu mencari dan menemukan sendiri pengetahuan. Ini berarti bahwa PSB telah merupakan kebutuhan dalam sistem persekolahan yang seharusnya diadakan dan dikelola secafa profesional. Hal tersebut terakhir ini pula yang menjadi pokok permasalahan tentang PSB dalam sistem persekolahan kita.

PSB bermanfaat, paling tidak, dalam enam aspek pokok, yaitu:
1) meningkatkan produktivitas pendidikan 2) memberikan kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih sesuai dengan kekhasan tiap individu
3) memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran
4) dapat lebih memantapkan hasil pembelajaran
5) memungkinkan terjadinya belajar seketika secara bermakna (immediacy of learning)
6) memungkinkan penyajian pendidikan secara lebih luas, terutama dengan semakin beragamnya dan semakin canggihnya media massa dalam era reformasi dewasa ini.

Dari enam aspek pokok tentang manfaat PSB tersebut di atas terungkap pengertian bahwa PSB bukan pusat multimedia yang ditujukan untuk sekedar memecahkan masalah kelangkaan media pembelajaran dalam ruang kelas tradisional, melainkan menyediakan fasilitas pembelajaran yang memang dibutuhkan untuk terlaksananya pembelajaran yang efektif dan efisien.

Seperti diungkapkannya terdahulu bahwa tujuan umum PSB adalah mempertinggi daya guna dan hasil guna kegiatan pembelajaran melalui pengembangan sistem pembelajaran. Hal ini diwujudkan dengan menyediakan berbagai macam media sebagai fasilitas dan pilihan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar di ruang kelas biasa dan untuk mendorong pemanfaatan cara-cara yang inovatif serta paling sesuai untuk mencapai tujuan program akademis yang telah direncanakan secara baik.

Sesuai dengan tujuan umum itu, maka PSB mempunyai tujuan-tujuan khusus, antara lain: 1) menyediakan berbagai macam pilihan media untuk menunjang pembelajaran dalam kelas tradisional; 2) memberikan pelayanan dalam perencanaan, produksi, operasional, dan tindakan lanjutan untuk pengembangan sistem pembelajaran; 3) melaksanakan latihan untuk staf pengajar mengenai pengembangan sistem pembelajaran; 4) mengembangkan penelitian yang penting untuk pemanfaatan media pembelajaran; 5) menyebarkan informasi yang bersifat kontributif dalam penggunaan berbagai sumber belajar; 6) menyediakan pelayanan produksi bahan pembelajaran; 7) memberikan konsultasi dalam mendesain dan memodifikasi fasilitas sumber belajar; 8) membantu mengembangkan patokan penggunaan sumber-sumber belajar; 9) menyediakan pelayanan pemeliharaan atas berbagai macam peralatan; 10) membantu dalam pemilihan dan pengadaan media dan peralatannya; 11) menyediakan pelayanan evaluasi untuk membantu menentukan efektivitas berbagai strategi pembelajaran.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Kurang Tidur Pengaruhi Prestasi Murid

0843364620X310Kurang tidur merupakan faktor penting di balik menurunnya prestasi anak di sekolah. Demikian temuan para peneliti yang mengkaji lamanya anak tidur dan prestasi mereka di sekolah di berbagai negara.

Anak-anak yang kurang tidur terutama di jumpai di negara-negara maju dan para ahli mengkaitkan kecenderungan ini dengan makin seringnya anak berinteraksi dengan komputer dan telepon genggam pintar. Banyak anak di negara maju yang menggunakan ponsel pintar atau komputer hingga larut malam.

Kurang tidur terbukti sangat mengganggu konsentrasi anak, sehingga guru harus melambatkan penyampaikan materi pelajaran.

Tidur sangat diperlukan

Kajian yang dilakukan para peneliti di Boston College menunjukkan jumlah terbesar anak yang kurang tidur ada di Amerika Serikat yang mencapai 73% di antara anak usia 9-10 tahun, sementara yang berusia 13-14 tahun angkanya mencapai 80%.

Rata-rata internasional untuk dua kelompok usia tersebut masing-masing adalah 47% dan 57%.

Anak-anak di Selandia Baru, Arab Saudi, Australia, Inggris, Irlandia, dan Prancis juga tergolong kurang tidur. Sementara anak di Azerbaijan, Kazakhstan, Portugal, Republik Ceko, Jepang, dan Malta masuk ke daftar yang mendapatkan waktu tidur yang cukup.

“Anak sangat memerlukan tidur. Jika guru melaporkan sebagian murid di kelas kekuarangan tidur, jelas ini akan berpengaruh terhadap prestasi secara keseluruhan,” kata Chad Minnich, peneliti di Boston College.

Sumber: kompas.com

Posted from WordPress for BlackBerry.

Metadata Perpustakaan

metadata.jpgMetadata adalah informasi terstruktur yang menggambarkan, menjelaskan, menempatkan, atau membuatnya lebih mudah untuk mengambil, menggunakan, atau mengelola sebuah sumber informasi. Metadata sering disebut data tentang data atau informasi tentang informasi.

Istilah metadata digunakan berbeda dalam komunitas yang berbeda pula. Di lingkungan perpustakaan, metadata biasanya digunakan untuk skema yang resmi dari suatu deskripsi, berlaku untuk semua jenis objek, digital atau non-digital. Katalogisasi pada perpustakaan tradisional adalah bentuk metadata dari MARC 21 dan aturan set yang digunakan, seperti AACR2, yang merupakan metadata standar. Skema metadata lain telah dikembangkan untuk menggambarkan berbagai objek tekstual maupun non-tekstual termasuk buku yang diterbitkan, dokumen elektronik, arsip menemukan alat bantu, benda seni, pendidikan dan materi pelatihan, dan ilmiah dataset.

Struktur Metadata
Skema metadata adalah elemen spesifik dari suatu metadata yang dirancang untuk tujuan khusus, seperti menggambarkan jenis khusus sebuah sumber informasi. Definisi atau arti elemen itu sendiri dikenal sebagai semantik dari skema. Nilai yang diberikan untuk elemen metadata adalah konten. Opsional, mereka mungkin menetapkan aturan konten untuk bagaimana konten harus dirumuskan (misalnya, bagaimana mengidentifikasi utama judul), aturan untuk representasi konten baru (misalnya, kapitalisasi aturan), dan nilai-nilai konten yang diijinkan (Misalnya, syarat harus digunakan untuk menentukan kosakata agar lebih terkontrol). Mungkin juga ada aturan sintaks untuk bagaimana elemen dan konten harus dikodekan. Sebuah skema metadata tanpa aturan sintaks disebut independen sintaks. Banyak skema metadata saat ini menggunakan SGML (Standard Generalized Mark-up Language) atau XML (Extensible Mark-up Language). XML, yang dikembangkan oleh World Wide Web Consortium (W3C), adalah bentuk HTML yang memungkinkan untuk memprmudah pertukaran informasi yang terstruktur. SGML merupakan superset dari HTML dan XML yang memungkinkan untuk memperkaya mark-up dari sebuah dokumen. XML mempunyai peran yang sangat penting dalam pertukaran berbagai data pada Web.

Jenis-Jenis Metadata
1. Machine Readable Cataloging (MARC)
MARC merupakan standar metadata katalog perpustakaan yang dikembangkan pertama kali oleh Library of Congress. MARC adalah salah satu hasil dan juga sekaligus syarat penulisan katalog koleksi bahan pustaka perpustakaan. Format LC MARC sangat besar manfaatnya bagi penyebaran data katalogisasi bahan pustaka ke berbagai perpustakaan di Amerika Serikat. Keberhasilan ini membuat negara lain turut mengembangkan format MARC sejenis bagi kepentingan nasionalnya masing-masing. MARC lebih dipopulerkan oleh dunia perpustakaan. Kode MARC ini nantinya akan sangat berguna apabila terjadi proses saling bagi data elektronik antara satu perpustakaan dengan perpustakaan lainnya, biasanya dikenal dengan istilah Harvesting atau saling pungut.

2. Dublin Core
Merupakan salah satu metadata yang digunakan untuk web resource description and discovery. Dublin Core dihadirkan karena ada beberapa pihak yang merasa kurang sesuai untuk menggunakan bentuk MARC sehingga diadakan suatu kesepakatan menyusun sebuah metadata baru yang lebih mudah dan fleksibel serta mempunyai kemampuan untuk dikembangkan dibanding MARC. Dublin Core memiliki beberapa kekhususan sebagai berikut:
1. Memiliki deskripsi yang sangat sederhana
2. Semantik atau arti kata yang mudah dikenali secara umum
3. Expandable memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut
Data Dublin Core tersusun atas 15 elemen dasar yaitu :
Title : judul dari sumber informasi
Creator : pencipta sumber informasi
Subject : pokok bahasan sumber informasi, biasanya dinyatakan dalam bentuk kata kunci atau nomor klasifikasi
Description : keterangan suatu isi dari sumber informasi, misalnya berupa abstrak, daftar isi atau uraian
Publisher : orang atau badan yang mempublikasikan sumber informasi
Contributor : orang atau badan yang ikut menciptakan sumber informasi
Date : tanggal penciptaan sumber informasi
Type : jenis sumber informasi, laporan, peta dan sebagainya
Format : bentuk fisik sumber informasi, format, ukuran, durasi, sumber informasi
Identifier : nomor atau serangkaian angka dan huruf yang mengidentifikasikan sumber informasi. Contoh URL, alamat situs
Source : rujukan ke sumber asal suatu sumber informasi
Language : bahasa yang intelektual yang digunakan sumber informasi
Relation : hubungan antara satu sumber informasi dengan sumber informasi lainnya
Coverage : cakupan isi ditinjau dari segi geografis atau periode waktu
Rights : pemilik hak cipta sumber informasi
Dublin Core lebih dipopulerkan oleh dunia ICT.

3. IndoMARC
Di Indonesia MARC diadopsi menjadi IndoMARC agar memudahkan identifikasi proses katalogisasi yang sesuai dengan kaidah dan kesepakatan para pustakawan di Indonesia. Metadata IndoMARC ini sudah lama dipakai di kalangan perpustakaan sebagai standar katalogisasi. Format IndoMARC merupakan implementasi dari ISO dengan format ISO 2719 untuk Indonesia, sebuah format untuk tukar-menukar informasi bibliografi melalui format digital atau media yang terbacakan mesin (machine-readable) lainnya. IndoMARC menguraikan format cantuman bibliografi yang sangat lengkap terdiri dari 700 elemen bibliografi dan dapat mendeskripsikan dengan baik yang kebanyakan merupakan objek fisik sumber pengetahuan, seperti jenis monografi (BK), manuskrip (AM), dan terbitan berseri (SE) termasuk: buku pamplet, lembar tercetak, atlas, skripsi, tesis, disertasi, jurnal buku langka

Membuat Metadata Yang Baik
Dalam sebuah perpustakaan, metadata sangat penting peranannya sehingga pembuatan metadata sebaiknya harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Banyak faktor yang ikut menentukan kualitas metadata. Panduan berikut mencakup prinsip-prinsip dari A Framework of Guidance for Building Good Digital Collections dari NISO (National Information Standards Organization dari Amerika Serikat) dan saran dari sumber-sumber lain:
•Memilih skema yang cocok untuk bahan dalam koleksi, pengguna koleksi, dan penggunaan, baik sekarang maupun di masa mendatang
•Membuat sistem metadata dengan levels of control, demi efisiensi biaya, waktu dan tenaga. Dengan berkonsentrasi pada sumber penting saja, kualitas metadata lebih terjamin.
•Menggunakan lebih dari satu skema bila perlu, misalnya MARC atau MODS untuk sumber-sumber yang paling penting, dan Dublin Core yang sederhana untuk yang kurang penting.
•Mengutamakan kebutuhan dan kemudahan pengguna. Skema yang sederhana mungkin lebih mudah bagi staf perpustakaan yang membuat metadata, tetapi pengguna mungkin dirugikan karena resource discovery menjadi kurang lancar, rumit, dan hasilnya mengecewakan.
•Jangan terkecoh oleh kemudahan semu. Skema sederhana belum tentu lebih mudah diaplikasikan daripada skema yang lebih kompleks. Untuk mengakomodasi data, pengatalog sering terpaksa membuat modifikasi atau perluasan lokal. Ini akan menghambat atau bahkan meniadakan interoperability
•Untuk memperlancar kerjasama dan menjamin interoperability dalam satu jaringan, susunlah suatu application profile bersama
•Skema terpilih harus menunjang interoperability semantik, struktural, dan sintaktik
•Skema untuk perpustakaan perguruan tinggi hendaknya menghasilkan metadata yang cukup granular (mendetil)
•Gunakan kosa kata terkendali yang standar, daftar pengendali (authority files) untuk nama orang, badan korporasi, dan unsur lain yang dijadikan titik temu (access point) yang dapat menjamin keseragaman dan konsistensi isi unsur-unsur
•Buatlah metadata yang mampu menunjang pengelolaan sumber digital berjangka panjang
•Cantuman berisi metadata merupakan sumber digital pula, dan sebab itu harus juga memenuhi syarat archivability, persistence, unique identification
•Manfaatkan sarana bantu untuk pembuatan metadata yang telah tersedia, misalnya: templates, mark-up tools, extraction tools, conversion tools
•Susunlah panduan penyusunan metadata yang menjelaskan How –What – Where – When – Why bagi staf agar kebijaksanaan yang telah ditetapkan dilaksanakan dengan taat azas
•Laksanakan quality control metadata secara teratur
•Metadata untuk koleksi perpustakaan digital perguruan tinggi sebaiknya dibuat oleh staf profesional yang dididik, dilatih, dan di-retool secara bersinambungan
•Perpustakaan perguruan tinggi di masa mendatang sebaiknya menunjuk seorang staf profesional untuk bertindak sebagai “metadata manager” atau “metadata integrator” yang bertanggung jawab atas proses seamless access di perpustakaan tempat ia bekerja.

Sumber: pdii.lipi.go.id

Posted from WordPress for BlackBerry.

Promosi Perpustakaan: Untuk Menarik Minat dan Menumbuhkan Budaya Baca

Perpustakaan sebagai tempat kegiatan umum untuk mencari informasi, kini telah banyak mengalami perubahan. Di lembaga pemerintah atau kantor-kantor Kementerian dan kantor-kantor pemerintah daerah (Pemda), juga kantor-kantor swasta serta kantor kedutaan-kedutaan negara asing, perpustakaan disediakan dengan fasilitas  yang cukup nyaman. Selain ruang ber-AC, peralatan pendukung perpustakaan termasuk komputer, jumlahnya cukup memadai. Koleksi perpustakaannya sangat beragam dan sebagian sedang menuju kepada Perpustakaan Digital.

Sebagai salah satu dari fungsi ruang publik, perpustakaan bukanlah semacam toko buku. Koleksi perpustakaan, baik buku-buku referensi, buku-buku biasa, majalah, koran, dan informasi lain dalam bentuk CD-ROM, microfis, laporan penelitian, tesis, disertasi dan lain sebagainya tidak dijual. Semua koleksi perpustakaan didayagunakan seluruhnya untuk kepentingan pemustaka atau pengunjung perpustakaan yang mencari informasi. Meskipun perpustakaan masuk dalam kategori nirlaba dalam penyelenggaraannya, bukan berarti bahwa tidak perlu melakukan promosi perpustakaan.

Layanan referensi, layanan penelusuran, dan berbagai layanan yang dilakukan oleh sebuah perpustakaan, semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pengunjung dalam mencari informasi. Bagi mahasiswa atau pelajar, perpustakaan tetap menjadi tempat yang ideal untuk mencari informasi yang berkait dengan bidang studi yang sedang ditekuninya. Namun demikian survey yang dilakukan oleh UNESCO di negara-negara ASEAN menyebutkan bahwa minat baca orang-orang Indonesia adalah yang paling rendah. Ini menunjukkan bahwa, perpustakaan tetap harus melakukan berbagai promosi, agar publik khususnya para mahasiswa dan pelajar dapat lebih sering memanfaatkan perpustakaan dan juga menumbuhkan budaya baca.

Membaca yang sering kita kenal sebagai “kunci”-nya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, harus terus dibudayakan tanpa henti. Para mahasiswa dan pelajar, bahkan para peneliti sekalipun, mestinya otomatis memiliki kegiatan membaca di atas rata-rata minat baca masyarakat umum. Sesuai dengan keberadaannya baik Perpustakaan Sekolah, Perpustakaan Perguruan Tinggi, perpustakaan di kantor Kementerian atau lembaga negara harus melakukan promosi tentang berbagai fasilitas perpustakaan. Berbagai kemudahan melakukan penelusuran informasi dan produk lain yang dimiliki sebuah perpustakaan harus di promosikan kepada masyarakat luas.

Masih rendahnya minat pelajar mendatangi perpustakaan maupun rendahnya budaya baca, diharapkan dapat dipacu dengan berbagai kegiatan promosi pihak perpustakaan. Antara lain dengan menerbitkan buku-buku saku, pamlet, brosur dan berbagai bentuk terbitan yang menginformasikan berbagai koleksi dan koleksi terbaru sesuai bidang dan disiplin ilmu yang ada. Membuka konsultasi dan membuka layanan informasi yang dapat diakses kepada perpustakaan lain, melalui jurnal atau majalah yang diterbitkan oleh pihak Perpustakaan. Di era kemajuan teknologi informasi saat ini, internet via handphone (HP) juga dengan mudah dapat mengunduh berbagai informasi yang dibutuhkan. Namun demikian, informasi yang didapat khususnya untuk para pelajar, tidak selengkap dan se-spesifik informasi yang didapat di perpustakaan.

Bagi perpustakaan yang berada dibawah kantor Kementerian atau lembaga negara termasuk Perpustakaan Umum Daerah (Perpumda) dan BUMN, perpustakaan sudah selayaknya tidak hanya digunakan oleh kalangan sendiri. Dalam rangka untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa dan membantu para mahasiswa dan para pelajar, selalu memberikan akses kepada para pelajar untuk mengunjungi perpustakaan. Promosi perpustakaan sudah sepatutnya dibiayai oleh pemerintah melalui DIPA di Kementerian maupun lembaga-lembaga negara.

Sumber: pdii.lipi.go.id

Posted from WordPress for BlackBerry.

Tahun Ajaran Baru UN SMA/SMK Dimajukan di Kelas XI

Pelaksanaan ujian nasional (UN) di jenjang SMA/SMK dengan diberlakukannya Kurikulum 2013 bakal dimajukan di kelas XI. Perubahan ini untuk membuat siswa di kelas XII bisa lebih berkonsentrasi untuk menyiapkan diri atau kuliah.

“Pada tahun ajaran baru nanti, siswa kelas X dulu yang menghadapi perubahan Kurikulum 2013 di semua sekolah. Nanti juga ada penyesuaian UN-nya,” kata Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan, Musliar Kasim, dalam rapat dengar pendapat pemerintah dengan Panitia Kerja (Panja) Kurikulum Komisi X DPR di Jakarta, Selasa (15/1/2013).

Menurut Musliar, perubahan UN di kelas XI SMA membuat siswa di kelas XII dapat lebih berkonsentrasi untuk menyiapkan kuliah di perguruan tinggi. Adapun di jenjang SMK adalah agar siswa kelas XII bisa konsentrasi menyiapkan diri terjun di dunia kerja.

Musliar mengatakan, untuk jenjang SMA kelas XI yang menjalani perubahan kurikulum, buku teks yang disiapkan pemerintah adalah Bahasa Indonesia, Matematika, dan Sejarah Indonesia.

Sumber: kompas.com

 

Posted from WordPress for BlackBerry.

Buku Pelajaran Kurikulum 2013 Digandakan Bulan April

April mendatang, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) akan segera mengerjakan penggandaan buku baik untuk guru dan siswa untuk keperluan kurikulum 2013. Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Musliar Kasim, mengatakan bahwa saat ini silabus untuk buku tersebut sudah selesai disusun. Pihaknya kini tengah merencanakan lelang tender untuk pengerjaan buku yang sedianya dilaksanakan pada awal Maret nanti.

“Tender rencananya sekitar awal Maret. Yang pasti silabus untuk buku ini sudah beres semua,” kata Musliar seusai Rapat Dengar Pendapat di Ruang Rapat Komisi X, DPR RI, Jakarta, Selasa (15/1/2013).

Ia menambahkan setelah selesai lelang untuk buku, pihaknya akan segera beralih pada penggandaan dan distribusi buku. Sesuai dengan agenda yang disusun, masa kerja untuk penggandaan dan distribusi buku ini berlangsung selama 80 hari terhitung sejak April.

“Dikerjakan dari April agar Juli sudah bisa dipakai. Masa kerjanya kan sekitar 80 hari. Jadi ya kita sesuaikan saja,” jelas Musliar.

Berdasarkan data dari Kemdikbud, jumlah buku siswa yang akan dicetak sebanyak 57.285.371 eksemplar dengan rincian untuk SD berjumlah 20.930.308 buku, untuk SMP berjumlah 3.332.480 buku, untuk SMA berjumlah 2.141.811 buku dan untuk SMK 1.706.082 buku.

Sumber: kompas.com

 

Posted from WordPress for BlackBerry.

7 Kunci Sukses Belajar

Bagaimana cara Anda belajar? Jika pertanyaan ini diajukan kepada para siswa, kemungkinan, jawabannya akan beragam. Misalnya, akan ada yang menjawab semalam sebelum ujian, tidur bersama buku teks, atau belajar kelompok.  

Bahkan mungkin, tak satu pun jawaban yang bagus akan Anda dapatkan. Hal ini menunjukkan, banyak siswa yang tak tahu bagaimana cara belajar yang baik. Kebanyakan orang berpikir bahwa belajar adalah apa yang Anda lakukan tepat sebelum ujian. Kenyataannya, belajar seharusnya menjadi bagian dari rutinitas harian Anda sebagai siswa atau mahasiswa. Caranya, bisa dimulai dengan menerapkannya pada hari pertama Anda memulai kelas dan mengakhirinya pada saat ujian berakhir.
 
Jika Anda memiliki keinginan yang kuat untuk sukses dalam belajar, bisa mengerjakan ujian dengan baik dan benar-benar belajar sesuatu, cobalah tujuh kunci sukses ini dan Anda akan membentuk kebiasaan belajar yang lebih baik!

1.  Bacalah seluruh silabus
Silabus sebuah pelajaran atau perkuliahan pada dasarnya merupakan kontrak antara siswa dan pengajar yang mengantarkan Anda mengetahui tugas dan materi apa yang akan Anda dapatkan.

Biasanya, silabus berisi garis besar terkait kompetensi, konsep, dan skill yang akan Anda pelajari di kelas. Ketahuilah apa tujuan setiap kelas yang Anda ikuti dan ini akan mengantarkan Anda sukses mengikuti pelajaran tersebut.

2. Mengatur/menandai kalender
Setelah Anda tahu tugas yang akan dihadapi, buatlah penandaan pada kalender kapan tugas tersebut akan jatuh tempo. Buatlah catatan tentang bahan bacaan yang Anda butuhkan untuk menyelesaikan tugas tersebut. Lakukan ini setiap sebelum mengikuti kelas.

3. Baca materi
Siswa sering sekali mengabaikan tugas membaca atau membaca bahan tanpa memahami materi pelajaran. Padahal, membaca adalah bagian penting dari kesuksesan belajar. Agar efektif, Anda bisa menandai atau menggarisbawahi kata-kata kunci dan bagian penting dari yang Anda baca. Jika terkait tugas, jangan lupa untuk menandai bagian yang mungkin akan menghubungkan Anda dengan tugas lainnya. Hal ini akan memudahkan untuk menemukannya jika suatu saat Anda membutuhkan bagian itu.
     
4. Membangun kosa kata sendiri
Setelah membaca, cobalah tandai kata-kata atau kosa kata yang Anda sendiri tidak familiar dan cari tahu di kamus. Simpan, buat definisinya, sehingga akan memudahkan Anda jika suatu saat menemukan kata itu kembali.
     
5. Menulis ulang catatan
Terlepas dari apakah kelas Anda digelar secara online atau tatap muka, membuat catatan selama kelas berlangsung adalah hal yang penting. Biasakan menulis ulang atau ketik catatan Anda setelah kelas berlangsung, tambahkan informasiyang relevan dari buku pegangan. Ini akan memudahkan Anda dalam mengingat materinya. 
     
6. Gunakan panduan studi
Jika buku teks yang menjadi bahan pelajaran tidak menyertakan panduan studi, kunjungilah situs web penerbit buku teks tersebut. Di sana, Anda akan banyak menemukan panduan studi, kuis-kuis, atau materi yang lebih banyak.
     
7. Aplikasikan yang sudah Anda pelajari
Cobalah untuk mengaplikasikan apa yang sudah Anda pelajari di kelas dalam situasi nyata. Akhirnya, coba untuk menjelaskan apa yang sudah Anda pelajari kepada orang lain. Jika Anda bisa melakukan ini, percayalah, Anda sudah cukup menguasai materi yang Anda pelajari.  

Selamat belajar!

Sumber: kompas.com

Aduh… Ini Soalnya Aneh?

Jika biasanya para guru mengawasi siswanya yang tengah ujian, kini giliran mereka yang harus duduk tenang dan sesekali bertopang dagu memikirkan jawaban soal yang diujikan dalam Uji Kompetensi Guru (UKG) gelombang dua.

Suasana ujian ini tak jauh berbeda dengan suasana Ujian Nasional (UN) para siswanya. Dengan diawasi oleh tiga petugas dari Lembaga Pengendalian Mutu Pendidikan (LPMP) yang berasal dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), para guru ini menatap layar komputer di hadapannya. Sesekali sejumlah guru mengeluh dan berbincang sebentar dengan rekan di sebelahnya karena soal yang diujikan dinilai sulit untuk dijawab.

“Aduh… ini soalnya aneh. Tinggal berapa lama lagi waktunya?” ujar seorang guru yang mengenakan jilbab merah jambu saat menemui soal yang sulit pada pelaksanaan UKG gelombang kedua di SMA Negeri 70, Jakarta, Selasa (9/10/2012) pagi.

Bahkan, tidak sedikit guru yang menguap saat mengamati soal yang terpampang di layar komputernya. UKG gelombang kedua untuk guru di wilayah Jakarta Selatan yang digelar di SMA Negeri 70 ini berlangsung dari pukul 07.30 WIB.

“Ujiannya dua tahap. Pertama jam 07.30-10.00 WIB, kemudian dilanjut jam 10.30-13.00 WIB,” ujar petugas LPMP, Indriyani.

Dia menjelaskan bahwa untuk hari ini hanya satu ruangan yang digunakan di SMA Negeri 70. Pasalnya, guru yang mengikuti ujian tidak terlalu banyak. Namun, pada hari terakhir yang akan dilangsungkan pada 12 Oktober mendatang, dua kelas akan digunakan karena jumlah guru akan lebih banyak.

“Selasa, Rabu, dan Kamis hanya ada satu kelas. Akan tetapi, hari Jumat, rencananya akan memakai dua kelas,” kata Indriyani.

UKG gelombang II untuk enam wilayah Jakarta serentak dilaksanakan pada hari ini. Sebanyak 6.637 guru di Jakarta yang memperoleh undangan mengikuti UKG gelombang kedua di tempat uji kompentensi (TUK) yang telah ditentukan sesuai wilayahnya.

Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2012/10/09/15342810/Aduh.Ini.Soalnya.Aneh