Koleksi Perpustakaan Sekolah: Jenis dan Pengembangannya

Koleksi perpustakaan sekolah adalah sejumlah bahan atau sumber-sumber informasi, baik berupa buku ataupun bukan buku, yang dikelola untuk kepentingan proses belajar mengajar di sekolah yang bersangkutan (Yusuf dan Suhendar, 2005:9). Koleksi merupakan “amunisi” dari perpustakaan sekolah. Tanpa adanya koleksi yang memadai, maka perpustakaan sekolah tidak dapat menjalankan fungsinya secara maksimal. Oleh karena itu, pengelola perpustakaan sekolah wajib mengetahui jenis-jenis koleksi perpustakaan sekolah dan bagaimana pengembangannya agar koleksi tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh para pengguna.

Jenis Koleksi Perpustakaan Sekolah
Secara fisik, jenis koleksi perpustakaan sekolah terdiri dari bahan buku dan bahan nonbuku. Bahan buku umumnya terbuat dari kertas sebagai media rekam informasi. Bahan ini lebih praktis, luwes, dan dapat dibawa ke mana-mana. Contoh dari bahan buku yaitu buku teks, buku ajar, buku referensi, buku paket, majalah, koran, jurnal, dan lainnya. Sedangkan, bahan nonbuku atau biasa disebut sebagai bahan audiovisual merupakan bahan yang dibuat atas hasil teknologi elektronik bukan bahan hasil cetakan dari kertas. Contoh dari bahan nonbuku yaitu film, kaset video, tape recorder, mikrofis, CD, dan lainnya (Yusuf dan Suhendar, 2005:23; Lasa Hs, 2007:47).

Bahan buku bermacam-macam jenisnya. Pada umumnya jenis bahan buku yang banyak ditemui di perpustakaan sekolah adalah: (1) terbitan berkala seperti majalah dan surat kabar, (2) buku paket/pelajaran pelengkap, (3) buku bacaan baik itu fiksi maupun nonfiksi, (4) dan buku referensi seperti kamus, ensiklopedia, atlas dan lainnya.

Bahan nonbuku atau audiovisual yang banyak ditemui di perpustakaan sekolah antara lain: (1) kaset, (2) DVD/CD audio maupun video, (3) dan ebook atau buku elektronik.

Pengembangan Koleksi Perpustakaan Sekolah
Pengembangan koleksi perpustakaan sekolah harus disesuaikan dengan kegiatan proses belajar mengajar di sekolah. Pengembangan koleksi juga harus mendukung pelaksanaan kurikulum pendidikan dalam jumlah yang mencukupi untuk melayani semua peserta didik dan pendidik sebagaimana yang tertuang dalam Undang-Undang No. 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan Pasal 23 Ayat 2 dan 3.

Yusuf dan Suhendar (2005:24) menyatakan bahwa belum ada ketentuan yang jelas mengenai komposisi koleksi perpustakaan sekolah, terutama jika dilihat dari segi jenis-jenis koleksi perpustakaan sekolah. Namun demikian, dilihat dari peran perpustakaan sekolah yang masih mengutamakan unsur pembinaan minat baca dan pengembangan daya kreativitas, imajinasi serta karakter siswa maka perbandingan antara jenis koleksi fiksi dan nonfiksi adalah 60:40. Artinya, 60% untuk kategori jenis koleksi fiksi dan 40% untuk jenis koleksi nonfiksi.

Menurut pedoman Standar Nasional Indonesia (SNI) 7329:2009 tentang perpustakaan sekolah, pengembangan koleksi hendaknya memerhatikan hal-hal berikut: (1) dalam upaya meningkatkan minat baca diarahkan pada rasio satu murid sepuluh buku, (2) penambahan koleksi buku per tahun sekurang-kurangnya 10% dari jumlah koleksi, (3) melanggan minimal satu judul majalah dan satu judul surat kabar yang terkait dengan proses pembelajaran, (4) menyediakan buku pelajaran pelengkap yang sifatnya membantu atau merupakan tambahan buku pelajaran pokok yang dipakai oleh siswa dan guru, (5) menyediakan bacaan pendukung kegiatan pembelajaran yang meliputi koleksi nonfiksi dan koleksi fiksi dengan perbandingan 60:40, (6) menyediakan koleksi referensi minimal meliputi kamus umum bahasa Indonesia, kamus umum bahasa Inggris, kamus bahasa daerah, kamus bahasa Jerman, Prancis, Jepang, Arab, dan Mandarin, kamus subyek, ensiklopedia, sumber biografi, atlas, peta, bola dunia, serta buku telepon, (7) menyediakan akses sumber informasi elektronik termasuk internet.

Yusuf dan Suhendar (2005:26) menambahkan bahwa pengembangan koleksi ini dapat dilakukan langsung oleh pustakawan ataupun guru pustakawan dengan memperhatikan kebutuhan siswa dan guru di lingkungan sekolah yang bersangkutan. Secara umum, prinsip pengembangan koleksi perpustakaan sekolah adalah: (1) disesuaikan dengan kebutuhan kurikulum yang berlaku di sekolah, (2) disesuaikan dengan sistem pendidikan secara nasional, (3) disesuaikan dengan daerah tempat perpustakaan sekolah tersebut berada, (4) disesuaikan dengan tingkat kemampuan membaca siswa usia sekolah, (5) disesuaikan dengan sistem perpustakaan nasional, (6) disesuaikan dengan dana yang tersedia.

Daftar Pustaka:
(1) Lasa Hs. 2007. Manajemen Perpustakaan Sekolah. Yogyakarta: Pinus Book Publisher
(2) Standar Nasional Indonesia 7329:2009 Tentang Perpustakaan Sekolah. Jakarta: Badan Standardisasi Nasional
(3) Undang-Undang Republik Indonesia No. 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan. Jakarta: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
(4) Yusuf, Pawit M. dan Suhendar, Yaya. 2005. Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah. Jakarta: Kencana

Posted from WordPress for BlackBerry.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s